Breaking News

Home / Pengairan / Pidie Jaya

Jumat, 11 September 2026 - 22:56 WIB

Krueng Meureudu di Ambang Kehancuran: Ketika Sungai Masa Kecil Kini Menuntut Penyelamatan

Oleh: CM Cek Mad

PIDIE JAYA _ Acehpress.co.id – Ada luka yang menganga di tanah kelahiran. Bukan luka yang kasat mata, melainkan luka ekologis yang mengancam denyut kehidupan warga. Sungai Krueng Meureudu, yang bagi saya bukan sekadar aliran air, melainkan saksi bisu masa kecil—tempat saya belajar berenang, mandi, dan merasakan kedekatan dengan alam—kini berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Keprihatinan ini bukanlah isapan jempol belaka. Ia adalah kegelisahan yang lahir dari pantauan langsung, percakapan hangat di warung-warung kopi, hingga laporan warga yang mulai resah akan sempitnya aliran sungai yang dulu lebar dan dalam.

Pasca banjir bandang besar yang baru-baru ini melanda wilayah Sumatra, termasuk Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Meureudu, kekhawatiran itu kian menjadi-jadi. Setiap musim hujan, bencana banjir seolah menjadi tamu rutin yang tak diundang. Ironisnya, sungai yang dulu dikenal dalam dan luas, kini telah berubah drastis. Pendangkalan dan penyempitan aliran terjadi di mana-mana. Salah satu penyebab yang paling mencolok adalah pemasangan batu gajah di sepanjang sungai, mulai dari ujung jembatan hingga pasar ikan. Meski pemasangan batu gajah tersebut bertujuan baik untuk memperkuat tepi sungai, namun penempatan yang tidak tepat justru telah mempersempit aliran sungai secara signifikan. Akibatnya, kapasitas tampung air menurun drastis, dan ancaman banjir pun semakin nyata.

Peringatan dari Masa Lalu yang Kini Terabaikan

Saya pernah menuangkan kegelisahan ini dalam sebuah opini yang dimuat di media online saat banjir bandang melanda Pidie Jaya. Saat itu, saya menawarkan sejumlah solusi komprehensif yang didasarkan pada pengamatan mendalam dan ingatan akan kondisi geografis daerah ini. Solusi tersebut saya tujukan kepada Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya, Pemerintah Provinsi Aceh, dan yang tak kalah penting, Pemerintah Pusat. Namun, hingga kini, seolah angin lalu, solusi-solusi itu belum juga terwujud.

Ada beberapa langkah teknis yang saya yakini dapat menyelamatkan Krueng Meureudu dari kehancuran total:

1. Pembuatan Kanal dan Waduk Penampung di Hulu

Saya mengusulkan pembangunan kanal yang luas dan dalam di kawasan hulu, tepatnya di daerah Blang Awe/Seunong. Kanal ini nantinya dapat difungsikan sebagai waduk buatan yang mampu menampung air berlebih di musim hujan. Dengan demikian, debit air yang meluncur deras ke hilir dapat dikurangi secara signifikan, sehingga meminimalisir risiko banjir di kawasan permukiman.

Baca Juga:  Kolaborasi PMI, Dinkes dan RSUD Pidie Jaya Gelar Bakti Sosial Kesehatan Meriahkan HUT ke-19

2. Pembesaran Saluran dan Pengerukan Sungai Secara Menyeluruh

Selokan dan anak-anak sungai di kiri kanan Krueng Meureudu harus segera diperbesar kapasitasnya. Tujuannya tak lain untuk memperlancar aliran air. Yang tak kalah penting adalah pengerukan atau normalisasi sungai secara menyeluruh, mulai dari bagian hilir (Kuala) hingga ke hulu. Ini adalah langkah mutlak untuk mengembalikan kapasitas tampung sungai yang telah lama tergerus oleh sedimentasi.

3. Rehabilitasi Lingkungan dan Penindakan Tegas Perambahan Hutan

Saya juga menekankan pentingnya reboisasi hutan di wilayah tangkapan air. Kerusakan hutan akibat perambahan liar yang terus terjadi dinilai sebagai akar masalah yang memperparah erosi dan sedimentasi. Tanpa penindakan tegas terhadap oknum-oknum perambahan hutan, upaya normalisasi sungai pun akan sia-sia. Hutan yang gundul akan terus mengirimkan lumpur ke sungai, membuat pendangkalan terjadi lebih cepat.

Ancaman Serius: Kampung-Kampung di DAS Krueng Meureudu Terancam Hilang

Jika langkah-langkah korektif tersebut tidak segera diimplementasikan secara serius, terencana, dan berkelanjutan, saya berani memberikan peringatan tegas: tunggu saja, beberapa kampung di DAS Krueng Meureudu akan hilang. Bukan hilang ditelan bumi, melainkan terkikis banjir dan terkubur sedimentasi. Ini bukanlah skenario fiksi, melainkan ancaman nyata yang sudah di depan mata jika kita terus menutup mata.

Bencana banjir tahunan yang terus melanda bukan lagi sekadar fenomena alam biasa. Ia adalah konsekuensi dari akumulasi masalah ekologis dan tata air yang memerlukan penanganan sistemik, terpadu, dan berkelanjutan. Sudah saatnya kita berhenti saling menunggu. Pemerintah daerah, provinsi, dan pusat harus bersinergi. Masyarakat pun perlu dilibatkan, mulai dari tidak membuang sampah ke sungai hingga mendukung program rehabilitasi lingkungan.

Krueng Meureudu adalah warisan leluhur yang harus kita jaga. Sungai ini bukan hanya tentang kenangan masa kecil saya, tetapi juga tentang masa depan anak cucu kita. Jangan sampai kita hanya bisa menyesal ketika semuanya sudah terlambat. Sungai itu kini menuntut penyelamatan. Sudahkah kita mendengarnya?

Catatan Redaksi:
Opini ini sepenuhnya merupakan pandangan penulis (CM Cek Mad) berdasarkan pengamatan dan keprihatinan terhadap kondisi lingkungan di wilayahnya. Redaksi mengajak pembaca untuk turut serta dalam diskusi dan upaya penyelamatan lingkungan, khususnya di kawasan DAS Krueng Meureudu

Tagar:
#KruengMeureudu #BanjirPidieJaya #SelamatkanSungai #DASKruengMeureudu #OpiniCMCekMad #LingkunganAceh #NormalisasiSungai #PidieJayaBersatu

Share :

Baca Juga

Agama

Pidie Jaya Perkuat Penegakan Syariat Islam Lewat Eksekusi Cambuk Pelaku Perjudian

Pengairan

Dinas Pengairan Aceh Raih Penghargaan Informatif dalam Anugerah Keterbukaan Informasi Publik 2025

Pidie Jaya

Apel Kebangsaan Indonesia di Meureudu, TNI-Polri hingga Relawan Deklarasi Damai

Pertanian

Pemulihan Pertanian Pidie Jaya Kian Nyata Lewat Panen Bawang Merah

Pidie Jaya

Semangat Kemerdekaan Menggema di Pidie Jaya

Pidie Jaya

TNI-Polri dan Forkopimda Pidie Jaya Gelar Olahraga Bersama Perkuat Sinergitas

Pidie Jaya

Warga Gunakan Hak Pilchiksung di Pidie Jaya

Pidie Jaya

Hujan dan Angin Kencang, Warga Sekitar Tutue Krueng Meureudu Tingkatkan Kewaspadaan