Breaking News

Home / Pidie Jaya

Minggu, 6 September 2026 - 11:37 WIB

Kapolres dan Kopjay Ontelis Tua: Gowes Bangkit di Meureudu

MEUREUDU _ Acehpress.co.id – Embun pagi masih setia membasahi dedaunan saat puluhan sepeda ontel mulai berderet di halaman Kana Wisma Meureudu, Minggu (6/9). Di antara deru motor dan hiruk-pikuk kota yang mulai terjaga, suara rantai berderit dan tawa renyah justru menjadi simfoni pembuka hari. Inilah momen yang dinanti: sekitar 20 ontelis legend dari Komunitas Ontel Pidie Jaya (Kopjay) yang di ketuai Drs. H. Agussalim (Kanda Agus) kembali mengayuh, bukan sekadar untuk olahraga, tetapi untuk membuktikan bahwa semangat kebersamaan tak pernah mati.

Menjemput Kembali Gairah yang Sempat Redam

Bencana banjir bandang yang melanda Pidie Jaya beberapa waktu lalu menyisakan duka dan kehancuran. Tak hanya rumah dan harta benda, semangat komunitas pun ikut terhempas. Namun, pagi itu menjadi saksi bahwa kebangkitan selalu mungkin. Bersama Kapolres Pidie Jaya, AKBP Tendri Wardi, para penggowes senior ini melangkah kembali, menjemput gairah bersepeda yang sempat terhenti.

Rute Penuh Makna, Bukan Sekadar Jarak

Pukul 07.30 WIB, rombongan memulai perjalanan dari Kana Wisma Meureudu. Dengan santai, mereka melintasi Kota Meureudu, Meunasah Jurong, hingga Simpang 4 Meureudu. Tak ada target kecepatan, tak ada garis finis yang dikejar. Yang ada hanyalah desakan pedal yang mengalun seirama, ditemani angin pagi yang menyapa wajah-wajah tua namun bersemangat.

Setelah menyusuri Jalan Banda Aceh–Medan menuju Keude Ulim, perjalanan berbalik arah melewati jalur rel kereta api, kembali ke Kana Wisma. Total waktu tempuh sekitar 1,5 jam, dan seperti biasa, akhir perjalanan justru terasa lebih singkat karena kehangatan yang menyertainya.

Kapolres di Antara Roda Tua, Jabatan Luruh oleh Pedal

Yang membuat pagi itu istimewa adalah kehadiran Kapolres Pidie Jaya, AKBP Tendri Wardi. Ia tak sekadar melepas rombongan atau berfoto di garis start. Ia mengayuh sepeda tua yang tak kalah klasik, menyusuri rute bersama para ontelis, berbincang akrab, dan sesekali melontarkan canda yang mengocok perut.

“Pak Kapolres ini bukan tamu biasa, beliau sudah seperti keluarga kami,” ujar Kanda Agus, Ketua Kopjay, dengan senyum merekah.

Baca Juga:  LEMBATU Perkuat Legalitas dan Komitmen Kemanusiaan di Pidie Jaya

Di atas sepeda, seragam dan pangkat seakan luruh. Yang tersisa hanyalah semangat yang sama, napas yang sama, dan tujuan yang sama: sehat, bahagia, dan bersatu.

Para Ontelis Senja, Semangat yang Tak Pernah Tua

Menariknya, mayoritas peserta adalah mereka yang telah berusia di atas 50 tahun. Namun usia tak membuat mereka gentar menghadapi tanjakan kecil, hembusan angin, atau panjangnya rute. Sepeda ontel yang mereka tunggangi—dengan rangka besi kokoh, setang melengkung, dan sadel lebar—bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah mesin waktu yang membawa mereka bernostalgia, sekaligus simbol perlawanan terhadap kemalasan dan keputusasaan.

“Sepeda ini sudah puluhan tahun saya rawat. Baru kali ini saya diajak gowes sama Pak Kapolres. Luar biasa!” celetuk salah seorang ontelis sambil tertawa terbahak-bahak.

“Yooooookkk Kita Gowes Santai, Sehat Satu Jam!”

Di sepanjang perjalanan, slogan “Yooooookkk kita Gowes Santai, Sehat Satu Jam bersama Sepeda KOPJAY BANGKIT” bukan sekadar seremoni. Ia adalah seruan yang menggema dari hati. Setiap pedal yang berputar adalah doa, setiap tawa yang terucap adalah semangat baru, dan setiap sentuhan ban ke aspal adalah langkah kecil menuju pemulihan.

Kapolres Tendri Wardi pun menutup gowes dengan kalimat penuh makna: “Dengan bersepeda, kita sehat siang malam!”

Akhir Perjalanan, Awal Kebangkitan

Pukul 09.00 WIB, rombongan kembali ke Kana Wisma. Keringat mengucur, napas memburu, tetapi senyum tak pernah pudar. “Alhamdulillah, dengan kehadiran Pak Kapolres, kita bangkitkan kembali semangat gowes,” ujar Kanda Agus dengan mata berkaca-kaca.

Lebih dari sekadar gowes, pagi itu menjadi saksi bahwa setelah badai, pelangi tetap dapat dinikmati bersama. Kopjay mungkin mengendarai sepeda tua, tetapi semangat yang mereka bawa jauh dari kata usang. Karena roda boleh berderit, pedal boleh berat, tetapi tekad untuk bangkit—tak pernah mengenal usia.

“Selama masih ada kemauan untuk mengayuh, selalu ada jalan untuk bangkit.”

Pewarta : CM Cek Mad

Sumber berita dan foto foto : WA Group KOPJAY

 

Share :

Baca Juga

Pidie Jaya

Dinsos Pidie Jaya Antar 51 Paket Bantuan untuk Anak Disabilitas

Headline

BAMUS Pidie Jaya Gelar Silaturahmi, Bubarkan Panitia Maulid–MUBES, dan Lantik Pengurus di Lebak Bulus

Pidie Jaya

Maulid Akbar Pidie Jaya, Merawat Persaudaraan dan Menyalakan Harapan

Daerah

Oknum Jangan Memecah Belah: Tim SABAR Diminta Fokus Mendamaikan Bupati dan Wakil Bupati Pidie Jaya

Daerah

Fitriani, Direktur Acehpress: Turun ke Meureudu di Tengah Banjir, Merawat Empati dan Solidaritas Jurnalis

Pidie Jaya

Kapolres Pidie Jaya Safari Subuh di Dayah Raudhatul Munawwarah, Ajak Santri Jauhi Bullying

Pidie Jaya

Malam Senin Usai Isya, Gampong Paru Cot Gelar Dakwah Islamiyah Peringati Maulid Nabi 1448 H/2026 M

Pidie Jaya

Bupati Pidie Jaya Tantang Juara Tarik Tambang Gampong Beurawang