Oleh: CM Cek Mad, Jurnalis di Pidie Jaya
MEUREUDU — Banjir kembali melanda Pidie Jaya pada Sabtu malam Minggu, 30 Oktober 2026. Kabar itu tidak hanya memantik keprihatinan warga, tetapi juga menggerakkan nurani seorang perempuan yang memimpin media online Acehpress.co.id, Ibu Fitriani. Begitu mendengar Pidie Jaya kembali dilanda banjir, ia bersama stafnya langsung menuju Kota Meureudu, ibu kota Kabupaten Pidie Jaya. Bukan sekadar memantau dari jauh, ia ingin melihat langsung gampong-gampong yang terkena banjir.
Di Meureudu, Fitriani tidak datang sebagai pemimpin yang menjaga jarak. Ia menyapa warga, melihat kondisi permukiman, dan merasakan langsung dampak banjir. Bagi saya, sikap seperti ini penting dicatat. Di tengah banyaknya pemimpin media yang sibuk dengan agenda ruang redaksi, Fitriani memilih hadir di tengah masyarakat. Rasa sosialnya tinggi. Kebersamaan sesama jurnalis dijaga. Semua dianggap kawan. Itu sebabnya ia disegani dan dihormati, bukan karena jabatan semata, tetapi karena sikap dan keteladanan.
Dalam kunjungan itu, ia juga bertemu rekan kerja dari media Acehpress, baik Kabiro maupun jurnalis. Mereka kemudian melakukan rapat kecil di Warkop Bineeh Krueng. Suasananya tidak formal. Namun dari perbincangan sederhana itu, ada pesan besar: kinerja wartawan harus terus ditingkatkan demi kemajuan media yang dipimpinnya. Rapat kecil di warung kopi bukan hal sepele. Di Aceh, warkop sering menjadi ruang diskusi, tempat ide tumbuh, dan simpul silaturahmi. Di sanalah strategi pemberitaan, solidaritas, dan semangat kerja sama dirawat.
Sebagai catatan opini, sosok Fitriani menunjukkan bahwa memimpin media bukan hanya soal mengejar pembaca dan klik, tetapi juga soal kepekaan sosial. Banjir adalah peristiwa, tetapi cara media hadir di tengah warga adalah pilihan etis. Ketika direktur media turun langsung, wartawan mendapat energi baru. Warga pun melihat bahwa pers tidak hanya melaporkan musibah, tetapi ikut merasakan dan mendorong pemulihan.
Kebersamaan yang ditunjukkan Fitriani bersama staf dan rekan jurnalis Acehpress adalah contoh kecil yang berdampak besar: media yang kuat lahir dari empati, solidaritas, dan kedekatan dengan masyarakat. Pidie Jaya masih berbenah pascabanjir. Namun di tengah lumpur dan keterbatasan, hadirnya sosok seperti Fitriani memberi pesan bahwa pers dan masyarakat bisa berjalan bersama. Semua dianggap kawan, semua dirangkul. Itulah jurnalisme yang berpijak pada nurani.
CM Cek Mad
Jurnalis di Pidie Jaya























