PIDIE JAYA — Kopi, canda, dan keakraban mewarnai kegiatan kopi darat (kopdar) komunitas Push-to-Talk over Cellular (PoC) Bireuen dan Pidie Jaya yang berlangsung di Cafe Tuwaga (123), Meureudu, Pidie Jaya, Sabtu, 3 Oktober 2026. Pertemuan tersebut menjadi ruang silaturahmi bagi para pengguna PoC yang selama ini berkomunikasi melalui kanal komunikasi.
Rombongan POC Bireuen datang ke Pidie Jaya untuk bertatap muka sekaligus mempererat hubungan dengan sesama anggota komunitas. Pertemuan yang dikemas secara santai itu menjadi kesempatan bagi para peserta untuk mengenal lebih dekat rekan-rekan yang sebelumnya hanya mereka kenal melalui suara di perangkat PoC.
Wakil Ketua POC se-Aceh, T. Barzaini, bersama sejumlah anggota POC Pidie Jaya menyambut kedatangan Ketua POC Bireuen, Zulkifli, beserta anggota lainnya. Penyambutan berlangsung dalam suasana kekeluargaan, disertai jamuan sederhana sebagai bentuk penghormatan dan keakraban antarsesama pengguna PoC.
Di tengah suasana kafe yang santai, para peserta menikmati kopi dan hidangan sembari berbincang mengenai berbagai pengalaman selama menggunakan PoC. Percakapan berlangsung cair, mulai dari aktivitas komunitas hingga pengalaman berkomunikasi dan saling membantu melalui kanal yang selama ini menjadi penghubung mereka.
Kopdar tersebut menjadi momen untuk mengubah komunikasi berbasis suara menjadi perjumpaan secara langsung. Para anggota yang selama ini hanya mendengar suara satu sama lain akhirnya dapat bertatap muka, bersalaman, bercanda, dan membangun kedekatan dalam suasana yang lebih akrab.
Canda dan tawa yang mengiringi pertemuan membuat suasana semakin hangat. Kebersamaan itu menunjukkan bahwa teknologi komunikasi dapat menjadi jembatan yang mempertemukan orang-orang dari daerah berbeda, sekaligus membuka ruang bagi tumbuhnya persahabatan dan rasa kekeluargaan.
Selain sebagai ajang silaturahmi, kegiatan tersebut juga menjadi momentum memperkuat komunikasi antara POC Bireuen dan POC Pidie Jaya. Hubungan yang telah terbangun melalui kanal PoC diharapkan terus terjaga dan semakin erat melalui interaksi langsung maupun komunikasi sehari-hari.
Secangkir kopi yang dinikmati bersama menjadi simbol sederhana dari kebersamaan para anggota komunitas. Dari komunikasi yang awalnya hanya berupa suara, mereka dapat membangun hubungan yang lebih dekat, saling mengenal, dan menjaga semangat persaudaraan di tengah kesibukan masing-masing.
Kopdar POC Bireuen dan Pidie Jaya pun meninggalkan cerita hangat di Meureudu. Dari suara yang tersambung melalui kanal, mereka dipertemukan dalam satu meja; dari pertemuan itu lahir canda dan keakraban, sementara silaturahmi menjadi jembatan untuk terus merawat persaudaraan di antara sesama pengguna PoC.
(AFIT)























