JAKARTA – Koordinator Pusat BEM Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah Indonesia (BEM PTMAI), Yogi Syahputra Al Idrus, menyatakan menolak rencana aksi demonstrasi yang akan digelar pada 27 Agustus 2026. Sikap tersebut disampaikan sebagai bentuk perhatian terhadap ketertiban umum dan keamanan nasional.
Yogi menegaskan, penyampaian aspirasi merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Namun, menurutnya, kebebasan tersebut perlu dijalankan secara bertanggung jawab dengan tetap mempertimbangkan kepentingan masyarakat luas.
“Kami menghormati hak setiap mahasiswa dan masyarakat untuk menyampaikan pendapat. Tetapi dalam situasi seperti sekarang, kita juga harus memastikan bahwa penyampaian aspirasi tidak justru menghambat ketertiban dan keamanan nasional,” ujar Yogi.
Ia menilai mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai kelompok intelektual yang tidak hanya berperan sebagai kontrol sosial, tetapi juga ikut menjaga kualitas demokrasi di tengah berbagai persoalan nasional.
Karena itu, Yogi mendorong agar kritik terhadap pemerintah disampaikan secara konstruktif, terukur, dan tidak menimbulkan dampak yang merugikan masyarakat. Menurutnya, gerakan mahasiswa harus mampu menghadirkan gagasan serta solusi atas persoalan yang dihadapi bangsa.
Yogi juga mengajak organisasi kemahasiswaan untuk mengedepankan dialog dan konsolidasi gagasan dalam menyikapi berbagai persoalan nasional. Menurutnya, ruang dialog dapat menjadi sarana untuk mencari solusi tanpa mengorbankan kepentingan masyarakat.
BEM PTMAI, lanjut Yogi, akan tetap menjalankan fungsi kontrol sosial dengan mengedepankan nilai intelektual, konstitusional, serta kepentingan nasional. Sikap kritis mahasiswa dinilai tetap penting dalam mengawal jalannya pemerintahan.
“Demokrasi bukan hanya tentang keberanian menyampaikan kritik, tetapi juga tentang kedewasaan menjaga kepentingan bangsa,” katanya.
“Kami ingin gerakan mahasiswa tetap kritis, tetapi juga solutif. Jangan sampai gerakan yang seharusnya memperjuangkan kepentingan rakyat justru membuat masyarakat menjadi korban dari ketidakstabilan,” pungkasnya.
(AFIT)




















