Breaking News

Home / Aceh

Minggu, 27 September 2026 - 08:12 WIB

Setelah 1977: Menghidupkan Kembali Atjeh Tram, dari Nanggroe Bebueh Meureudu ke Jalur Sumatra

 

Oleh.   : T. Iskandar (Pangwa)
Editor : CM Cek Mad

_Acehpress.co.id || Kereta Api Aceh pernah menjadi nadi ekonomi Banda Aceh–Meureudu–Medan Kini saatnya sejarah itu tidak berhenti sebagai kenangan.

Kereta api bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah urat nadi peradaban. Ia mengangkut manusia, barang, gagasan, dan harapan. Di Aceh, jejak itu pernah sangat nyata. Orang tua kita menyebutnya Atjeh Tram—kereta api Aceh yang dibangun oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Tujuannya pertama memang bukan untuk rakyat, melainkan untuk angkutan pasukan Belanda dan logistik perang. Tetapi sejarah kemudian mencatat sesuatu yang lebih besar: kereta api mengubah wajah ekonomi, kota, dan kehidupan banyak orang.

Pembangunan pertama Atjeh Tram dimulai pada 1874, hanya sepanjang 5 kilometer, sebagai jalur perintis dari Kota Banda Aceh ke Pelabuhan Laut Ulee Lhee. Dari situ Belanda terus membangun jalur ke arah Pantai Timur. Dalam kurun 43 tahun, tepatnya pada 1917, Belanda sudah mampu membangun jalur kereta api sampai ke Langkat, dengan panjang mencapai 511 km dan 120 stasiun atau halte. Kereta yang digunakan saat itu adalah kereta api mesin uap. Bayangkan, dengan teknologi uap dan tantangan alam Aceh, rel itu bisa menembus hutan, rawa, sungai, dan pegunungan.

Salah satu stasiun yang paling legendaris adalah Stasiun Kereta Api Meureudu. Stasiun ini menjadi simpul transportasi Meureudu–Medan–Banda Aceh. Meureudu bukan kota biasa. Pada masa jaya kereta api, Meureudu bagaikan pusat ekonomi yang ramai, seperti kota metropolitan kecil pada zamannya. Ekonomi masyarakat tumbuh sangat baik karena Meureudu adalah daerah produksi beras andalan di Aceh. Pada masa Sultan Iskandar Muda, Meureudu bahkan diberi gelar “Nanggroe Bebueh”, yang berarti negeri istimewa, penghasil pangan beras untuk Aceh.

Pada masa jayanya kereta api, Meureudu mengirim komoditas pertanian ke Medan dengan kereta api. Di kota itu sudah ada pabrik padi atau rice milling yang tergolong modern pada masanya. Rice milling Meureudu dengan roda gila besar mampu menggiling padi menjadi beras berkualitas. Lokasinya berada di samping lapangan atau alun-alun Kota Meureudu. Di Stasiun Meureudu selalu tersedia gerbong beras spesial untuk mengangkut beras dari Meureudu ke Medan. Tidak hanya itu, gerbong ternak sapi dan kerbau juga stand by untuk mengangkut hewan ke Medan.

Stasiun Meureudu juga sibuk dengan bongkar muat barang-barang yang dikirim dari Medan. Umumnya barang konsumtif untuk para toke-toke di Meureudu, terutama kain bakal baju, celana, dan kain sarung. Ada pula gula, tepung terigu, pangan lainnya, hingga material bangunan dari Medan. Buruh bongkar muat sangat sibuk. Penjual makanan dan minuman pun tidak kalah banyak di sekitar stasiun. Stasiun bukan hanya tempat naik dan turun penumpang, tetapi juga pasar, ruang sosial, dan pusat kehidupan.

Bagi kami yang bersekolah di SD Negeri 1 Meureudu (1964–1969), kereta api adalah bagian dari masa kecil. Kelas dibagi dua sesi: kelas pagi dan kelas sore. Jika kelas sore, pukul 17.00 WIB kami keluar kelas. Pada saat itu, di Stasiun Meureudu, di depan SD Negeri 1, sudah masuk kereta api dari Bireuen ke Sigli. Kami anak-anak SD dari Pangwa umumnya naik kereta api pulang sekolah. Kami turun di Stasiun Keude Pangwa. Anak-anak sekolah waktu itu gratis naik kereta api dari Meureudu ke Pangwa.

Baca Juga:  Wujud Kepedulian, Sekretariat Wali Nanggroe Siapkan Tim Relawan untuk Bantu Korban Banjir Aceh Tamiang!

Kami juga pernah melihat musibah yang sangat tragis. Orang Pak Diah, seorang guru SMP, memotong rel kereta api di depan stasiun lalu ditabrak kereta api. Waktu itu sekitar pukul 10 pagi, saat istirahat sekolah atau pose. Saya sendiri tidak berani melihatnya. Peristiwa itu menjadi luka yang membekas, sekaligus pengingat bahwa rel kereta api adalah ruang hidup yang harus dijaga dan dihormati.

Pada waktu kami SMP Negeri Meureudu (1970–1973), kereta api masih aktif dan lancar. Pukul 09.00 pagi kereta api dari Sigli sudah masuk. Saat itu pedagang es lilin turun di Meureudu dan berjualan di sekolah-sekolah. Sore hari mereka kembali ke Sigli dengan kereta api dari Bireuen ke Sigli. Kereta api benar-benar menghidupkan ekonomi rakyat kecil.

Namun sejarah kemudian berbalik. Setelah terakhir kali beroperasi sekitar 1977, jalur kereta api Aceh mati. Rel dibongkar, stasiun hilang, dan generasi sekarang hanya mendengar cerita. Meureudu yang pernah menjadi pusat pengiriman beras dan ternak ke Medan kini kehilangan salah satu identitas besarnya. Kita kehilangan bukan hanya kereta, tetapi juga memori kolektif, konektivitas, dan peluang ekonomi.

Sekarang ada program pemerintah untuk membangun kembali Jalur Transportasi Kereta Api Sumatra, Banda Aceh–Lampung. Program serupa juga digagas untuk Kalimantan. Ini adalah kesempatan besar. Aceh harus berpikir kembali tentang kereta api. Bukan karena nostalgia, tetapi karena kebutuhan masa depan. Kereta api bisa menjadi solusi untuk angkutan barang massal seperti beras, pupuk, semen, ternak, dan hasil pertanian lainnya. Kereta api juga bisa menjadi tulang punggung transportasi penumpang antarkota, mengurangi beban jalan raya, menekan kecelakaan, dan menghemat biaya logistik.

Meureudu bisa menjadi simpul penting. Stasiun legendaris itu bisa dihidupkan kembali, bukan hanya sebagai tempat pemberhentian, tetapi sebagai museum kereta api, pusat ekonomi rakyat, dan destinasi wisata sejarah. “Nanggroe Bebueh” bisa kembali bersinar jika rel itu hidup lagi. Anak-anak sekolah hari ini berhak mengenal kereta api bukan hanya dari buku, tetapi dari pengalaman nyata.

Tentu ada tantangan: pembebasan lahan, penentuan trase, pendanaan, koordinasi pusat dan daerah, sumber daya manusia, serta pelestarian situs sejarah. Tetapi jika Belanda dengan mesin uap mampu membangun 511 km dalam 43 tahun, Indonesia masa kini seharusnya jauh lebih mampu. Yang diperlukan adalah kemauan politik, perencanaan serius, dan keberanian untuk memulai.

Jangan biarkan program kereta api hanya menjadi mimpi. Jangan biarkan generasi berikutnya hanya tahu bahwa di Aceh pernah ada kereta api dari cerita orang tua. Setelah 1977, sudah terlalu lama kita kehilangan rel itu. Saatnya berpikir kembali, merencanakan kembali, dan menghidupkan kembali kereta api di Aceh—dari Banda Aceh, Meureudu, hingga jalur Sumatra.

Meureudu adalah sejarah. Kereta api adalah masa depan. Kita hanya perlu menyatukan keduanya.

Banda Aceh, 24 Juni 2026
T. Iskandar, Pangwa

Share :

Baca Juga

Aceh

Korban Banjir Belum Terdata, Pemkab Pidie Jaya Turunkan Tim Verval Tahap II

Aceh

Wagub Aceh Dek Fadh Hadiri Haul ke-38 Abu Tanoh Mirah di Bireuen

Aceh

Pemerintah Aceh Dorong Penguatan Otsus dalam Revisi UUPA untuk Percepat Penurunan Kemiskinan

Aceh

Adakan FGD, Pemerintah Aceh Diskusi Terbuka dengan OKP dan Ormawa Terkait JKA

Aceh

Wagub Aceh Perkuat Koordinasi dengan Kemendagri dan Satgas PRR untuk Penguatan Fiskal Daerah serta Percepatan Pemulihan Aceh

Aceh

RSUDZA Layani 2.000 Pasien per Hari, Obat Diberikan, Administrasi Diurus

Aceh

GUBERNUR ACEH HADIRI RAKER APPSI, PERKUAT SINERGI PUSAT DAN DAERAH

Aceh

Bandar Khalifah Menuju Destinasi Wisata Religi Berbasis Sejarah dan Budaya