Breaking News

Home / Banda Aceh

Kamis, 9 Juli 2026 - 22:37 WIB

Kolaborasi BRIN, USK, dan Pemprov Aceh Ubah Sedimen Banjir Jadi Bahan Bangunan

BANDA ACEH – Pemerintah Aceh bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Syiah Kuala (USK), Forum Zakat (FOZ), dan Nurul Hayat memperkuat kolaborasi dalam pemanfaatan sedimen banjir menjadi bahan bangunan melalui Focus Group Discussion (FGD) Lintas Sektor Riset Pemanfaatan Sedimen Banjir di Aula Unit I Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh, Banda Aceh, Kamis (9/7/2026).

Kegiatan tersebut bertujuan mengonsolidasikan hasil penelitian, menghimpun masukan dari berbagai pemangku kepentingan, menyusun mekanisme implementasi, serta merumuskan langkah lanjutan agar hasil riset dapat segera diterapkan di daerah terdampak banjir.

Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Dr. Ir. Azanuddin Kurnia, SP, MP, mengatakan inovasi pemanfaatan sedimen banjir diharapkan mampu menjawab persoalan lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat melalui produksi batu bata dan bata ringan.

Menurut Azanuddin, penelitian tersebut merupakan hasil kolaborasi FOZ, BRIN, USK, dan Nurul Hayat yang telah melakukan identifikasi sedimen banjir di sejumlah wilayah di Aceh. Pemerintah Aceh juga akan menyiapkan pelatihan bagi masyarakat agar mampu mengolah lumpur menjadi bahan bangunan secara mandiri.

Riset ini berawal dari banjir besar yang melanda Aceh pada akhir 2025 dan meninggalkan endapan lumpur dalam jumlah besar di kawasan permukiman, lahan pertanian, serta badan sungai. Di Kabupaten Pidie Jaya, ketebalan sedimen di beberapa lokasi mencapai 1 hingga 2,5 meter, sedangkan normalisasi Sungai Krueng Meureudu telah mengeruk sekitar 124.324 meter kubik material.

Baca Juga:  Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh Terima Kunjungan Kerja Komisi IV DPRK Langkat, Bahas Penguatan Sektor Kesehatan

Selain menjadi persoalan lingkungan, sedimentasi juga menutupi sekitar 27.065 hektare lahan sawah di Aceh sehingga tidak dapat ditanami. Kondisi tersebut menghambat produktivitas pertanian dan memperlambat pemulihan ekonomi masyarakat pascabencana.

Tim peneliti telah melakukan observasi di Kabupaten Pidie Jaya dan Aceh Tamiang melalui pengambilan sampel di 10 titik, pengujian laboratorium, serta asesmen sosial. Hasil awal menunjukkan karakteristik sedimen berbeda di setiap lokasi sehingga tidak seluruhnya layak dijadikan bahan baku bata.

Berdasarkan hasil kajian awal, Desa Meunasah Mancang dan Desa Dayah Usen di Kabupaten Pidie Jaya ditetapkan sebagai lokasi prioritas implementasi karena memiliki karakteristik material yang sesuai dan dukungan masyarakat yang cukup kuat. Pemerintah Aceh berharap sinergi lintas sektor ini mampu mengubah sedimen banjir menjadi bahan bangunan bernilai ekonomi sekaligus mempercepat pemulihan wilayah terdampak bencana. (*)

(AFIT)

Share :

Baca Juga

Banda Aceh

Pemko Banda Aceh Gali Potensi PAD dengan Survei dan Rapat Bersama Tim Ahli

Aceh

Dishub Aceh Pantau Kedatangan Kapal Pengangkut LPG di Krueng Geukueh

Banda Aceh

Cendikia Peutrang Nanggroe Dorong Pemahaman Bendera Alam Peudeung sebagai Identitas Aceh

Banda Aceh

Apel Perdana di Balai Kota, Wakil Wali Kota Banda Aceh Tekankan Komitmen Pelayanan ASN

Banda Aceh

Walikota Banda Aceh Illiza Mengenang Para Syuhada Dalam Peringatan Tsunami Aceh Yang Khidmat

Banda Aceh

“Pertemuan Langsung BNNP Aceh dengan Wali Nangroe Aceh, Dorong Penanganan Narkotika Lebih Maksimal”

Banda Aceh

Api Berkobar di PT Suree Aceh Darussalam, Satu Unit Oven Rusak Berat

Banda Aceh

Kolaborasi Pemko dan UPTD PPA Hadirkan Ruang Layanan Baru Samsat di MPP Banda Aceh