BANDA ACEH – Cendikia Peutrang Nanggroe menggelar diskusi bertajuk “Ngobrol Inspirasi” (Ngopi) dengan tema “Bendera Alam Peudeung sebagai Identitas Aceh” di Warkop Mini Solong, Lampineung, Banda Aceh, Selasa (7/7/2026). Kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman masyarakat terhadap sejarah, identitas, dan warisan budaya Aceh.
Diskusi menghadirkan Ketua Cendikia Peutrang Nanggroe, M. Rafsanjani, S.Sos., M.E., dan budayawan Aceh Tarmizi A. Hamid atau Cek Midi sebagai narasumber. Keduanya memaparkan pandangan mengenai nilai historis, filosofis, dan makna Bendera Alam Peudeung bagi masyarakat Aceh.
Kegiatan tersebut diselenggarakan sebagai upaya membangun kesadaran publik di tengah arus globalisasi dan perubahan sosial yang terus berkembang. Penyelenggara menilai pemahaman terhadap simbol-simbol daerah menjadi bagian penting dalam menjaga jati diri dan marwah Aceh.
Dalam pemaparannya, M. Rafsanjani menegaskan bahwa Bendera Alam Peudeung bukan sekadar simbol visual, melainkan representasi perjalanan sejarah, jati diri, dan semangat perjuangan masyarakat Aceh yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Menurutnya, pemahaman yang benar terhadap simbol-simbol daerah akan memperkuat kesadaran kolektif masyarakat terhadap identitas Aceh. Ia juga menilai nilai-nilai sejarah yang terkandung di dalamnya perlu terus dikenalkan kepada generasi muda agar tidak tergerus perkembangan zaman.
Sementara itu, Cek Midi menjelaskan bahwa Bendera Alam Peudeung memiliki hubungan erat dengan sejarah dan kejayaan Kesultanan Aceh. Ia menekankan pentingnya pelestarian identitas budaya melalui edukasi, kajian sejarah, dan penyebarluasan informasi yang benar kepada masyarakat.
Diskusi berlangsung interaktif dengan diwarnai berbagai pertanyaan dan pandangan dari peserta. Antusiasme yang tinggi menunjukkan masih besarnya perhatian masyarakat terhadap isu sejarah, budaya, dan identitas Aceh.
Melalui forum tersebut, peserta juga diajak memahami bahwa pelestarian warisan budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau budayawan, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat agar nilai-nilai sejarah tetap terjaga.
Cendikia Peutrang Nanggroe berharap kegiatan “Ngopi” dapat terus menjadi ruang dialog yang produktif dalam membangun kesadaran sejarah dan budaya. Organisasi itu meyakini pemahaman terhadap Bendera Alam Peudeung sebagai simbol identitas Aceh merupakan salah satu langkah penting untuk menjaga marwah, memperkuat persatuan, dan melestarikan warisan budaya bagi generasi mendatang.(*)
(AFIT)























